FANDOM


Same-sex-marriage-711

Gay juga manusia - punya hak asasi untuk mencintai sesama gay

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis/seksual antara individu berjenis kelamin sama. Homoseksualitas adalah salah satu dari tiga kategori utama orientasi seksual, bersama dengan biseksualitas dan heteroseksualitas. Dikenal pula istilah lesbian untuk perempuan pecinta sesama jenis. Istilah gay dipakai untuk pria pecinta sesama jenis (tapi gay juga bisa dipakai untuk menyebut lesbian).

Konsensus ilmu-ilmu perilaku dan sosial dan juga profesi kesehatan dan kesehatan kejiwaan menyatakan bahwa homoseksualitas itu normal dalam orientasi seksual manusia. Homoseksualitas bukan penyakit kejiwaan dan bukan efek samping dari trauma (pemerkosaan pedofil, pergaulan buruk, pornografi gay, kurang bergaul dengan wanita, trauma patah hati, dll). Meskipun dunia sains menegaskan gay bukan lagi penyakit jiwa sejak tahun 1970an dan disahkan APA (yang kemudian didukung WHO dan PBB), umat beragama (terutama dari tiga agama besar Abrahamic: Yahudi/Yudaisme, Kristen, Islam) ngotot bahwa homoseksualitas itu dosa berat dan "tuhan" jijik dengan gay. Bertentangan dengan fakta sains, umat beragama homofobia menghasut bahwa homoseksualitas merupakan "pilihan sadar".


Etimologi

Kata homoseksual adalah gabungan kata Yunani (homos = sama) dan Latin. Kata gay umumnya mengacu pada homoseksualitas laki-laki, tetapi dapat digunakan untuk merujuk kepada semua orang GLBT (Gay Lesbian Biseksual Transgender). Kata lesbian hanya merujuk pada homoseksualitas perempuan. Kata "lesbian" berasal dari nama pulau Yunani Lesbos, di mana penyair Sappho banyak sekali menulis tentang hubungan emosionalnya dengan wanita muda.

Meski kata homoseksual merupakan kata resmi, tapi kaum homofobia berhasil mengubah kata sopan itu menjadi kata penghinaan. Kata 'homo' sendiri merupakan kata yang sangat menyinggung. Oleh karena itu, kata homoseksual kini dihindari dan diganti dengan kata gay/lesbian.

Istilah homoseksual pertama kali dimuat tahun 1869 dalam sebuah novel hasil karya penulis Austria - Karl-Maria Kertbeny - berisi perdebatan melawan hukum anti-sodomi Prusia. Pada tahun 1886, Richard von Krafft-Ebing menggunakan istilah homoseksual dan heteroseksual dalam bukunya Psychopathia Sexualis. Buku Krafft-Ebing begitu populer hingga istilah "heteroseksual" dan "homoseksual" menjadi istilah resmi.

Ada juga kata yang mengacu kepada cinta sesama jenis, homofilia.


Skala Kinsey

200px-Akintervw

Alfed Kinsey - peneliti kasus homoseksualitas

Almarhum Alfed Kinsey adalah seksolog Amerika yang meneliti homoseksualitas. Dia mewawancarai banyak pria perihal kelakuan seksual mereka. Hasilnya sungguh mengejutkan! Ternyata jumlah gay lebih banyak dari yang diperkirakan. Kinsey berteori 1 dari 10 pria dunia adalah gay sejati.

Karena seksualitas itu rumit, Kinsey menciptakan Skala Kinsey untuk menjelaskan orientasi dan kelakuan seksual manusia. Ada 7 peringkat: dari 0 sampai 6.

0 - Sepenuhnya heteroseksual

1 - Heteroseksual, sesekali homoseksual

2 - Heteroseksual, homoseksual lebih dari sesekali

3 - Biseksual

4 - Homoseksual, sesekali heteroseksual

5 - Homoseksual, heteroseksual lebih dari sesekali

6 - Sepenuhnya homoseksual

X - Aseksual, Non-Seksual

Pernyataan Ilmiah Perihal Homoseksualitas

American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers menyatakan homoseksualitas itu normal. Hal itu tidak main-main karena mereka harus berkonsultasi dulu dengan berbagai ahli (sosial, biologi, dll) dan memeriksa bukti-bukti ilmiah. WHO kemudia memperkuat keputusan itu. Meski demikian, hingga detik ini, banyak orang beragama yang ngotot gay itu dosa dan penyakit karena mereka merasa lebih pintar dibanding para psikolog APA dan WHO.

American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers berpendapat: “Pada tahun 1952, ketika Asosiasi Psikiatri Amerika pertama kali menerbitkan Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders, homoseksualitas dikategorikan sebagai gangguan mental. Namun, pengklasifikasian tersebut segera menjadi sasaran pemeriksaan kritis dalam penelitian yang didanai oleh Institut Kesehatan Mental Nasional. Studi dan penelitian berikutnya secara konsisten gagal menghasilkan dasar empiris atau ilmiah yang menunjukkan homoseksualitas sebagai gangguan atau kelainan. Dari berbagi kumpulan hasil penelitian homoseksualitas, para ahli bidang kedokteran, kesehatan mental, ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku mencapai kesimpulan bahwa pengklasifikasian homoseksualitas sebagai gangguan mental tidak akurat dan bahwa klasifikasi DSM mencerminkan asumsi yang belum teruji, yang didasarkan pada norma-norma sosial yang pernah berlaku dan pandangan klinis dari sampel yang tidak representatif yang terdiri dari pasien yang mencari terapi penyembuhan dan individu-individu yang masuk dalam sistem peradilan pidana karena perilaku homoseksualitasnya.

Sebagai pengakuan bukti ilmiah, Asosiasi Psikiatri Amerika menghapuskan homoseksualitas dari DSM pada tahun 1973, menyatakan bahwa "homoseksualitas sendiri menunjukkan tidak adanya gangguan dalam penilaian, stabilitas, keandalan, atau kemampuan sosial umum atau vokasional." Setelah meninjau data ilmiah secara seksama, Asosiasi Psikologi Amerika melakukan tindakan yang sama pada tahun 1975, dan mendesak semua pakar kejiwaan "untuk memimpin menghilangkan stigma penyakit mental yang telah lama dikaitkan dengan orientasi homoseksual." Asosiasi Nasional Pekerja Sosial pun menerapkan kebijakan serupa.

Kesimpulannya, para pakar kejiwaan dan peneliti telah lama mengakui bahwa menjadi homoseksual tidak menimbulkan hambatan untuk menjalani hidup yang bahagia, sehat, dan produktif, dan bahwa sebagian besar kalangan gay dan lesbian bekerja dengan baik di berbagai lembaga sosial dan hubungan interpersonal."



Penyebab Homoseksualitas Menurut Sains

Menurut kaum homofobia religius, homoseksualitas itu produk dosa dan nafsu. Bahkan banyak mitos-mitos konyol yang saling berkontradiksi tentang asal mula gay, misal gara-gara diperkosa pedofil gay, ditinggal wanita, terpengaruh pornografi gay, jarang bergaul dengan wanita, dll. Semuanya salah tapi mitos itu didukung agama sehingga yang salah menjadi benar.

Genes

Suka atau tidak, gay itu genetik (beberapa gen berinteraksi dengan faktor X)

Dari sisi sains, banyak bukti ilmiah yang memperkuat bahwa homoseksulitas itu alami dan genetik. Berbagai badan ilmiah angkat bicara mengenai sebab homoseksualitas:
  • American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers pada tahun 2006 menyatakan: “Saat ini, tidak ada kesepakatan ilmiah tentang faktor-faktor yang menyebabkan individu menjadi heteroseksual, homoseksual, atau biseksual -termasuk kemungkinan dampak biologis, psikologis, atau sosial orientasi seksual orang tua. Namun, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa sebagian besar lesbian dan gay dewasa dibesarkan oleh orangtua heteroseksual dan sebagian besar anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua lesbian dan gay tumbuh menjadi heteroseksual.”
  • Pada tahun 2007, Royal College of Psychiatrists menyatakan: “Meskipun spekulasi psikoanalitik dan psikologis telah berlangsung hampir satu abad, namun tidak ada bukti substantif yang mampu mendukung pendapat bahwa pola asuh atau pengalaman anak periode awal berperan dalam pembentukan dasar orientasi heteroseksual atau homoseksual seseorang. Orientasi seksual bersifat alamiah di alam, dan ditentukan oleh serangkaian interaksi kompleks faktor genetik dan masa kandungan awal. Orientasi seksual, karenanya, bukan merupakan pilihan.”
  • American Academy of Pediatrics dalam Pediatrics pada tahun 2004 menyatakan: “Orientasi seksual mungkin tidak ditentukan oleh satu faktor, tetapi oleh gabungan pengaruh genetik, hormon, dan lingkungan. Dalam beberapa dekade terakhir, teori-teori biologi telah dikemukakan para ahli. Tetapi, tetap menjadi kontroversi dan tidak pasti tentang asal-usul ragam orientasi seksual manusia, tidak ada bukti ilmiah bahwa kelainan pola asuh, pelecehan seksual, atau sejarah hidup buruk lainnya mempengaruhi orientasi seksual. Pengetahuan saat ini berpendapat bahwa orientasi seksual biasanya dibentuk selama usia dini.”
  • Profesor Michael King menyatakan: "Kesimpulan yang dicapai oleh para ilmuwan dalam menyelidiki asal-usul dan stabilitas orientasi seksual adalah bahwa gay merupakan karakteristik manusia yang terbentuk sejak awal kehidupan, dan tidak dapat berubah. Bukti ilmiah asal usul homoseksualitas dianggap relevan sebagai perdebatan teologis dan sosial karena adanya anggapan bahwa orientasi seksual adalah sebuah pilihan."[78]

Melihat banyaknya gay (dan biseks) Sigmund Freud berteori bahwa manusia itu pada dasarnya biseksual. Teori itu mengacu pada karya rekannya, Fliess Wilhelm, yang menguraikan bahwa semua manusia dilahirkan biseksual tetapi seiring perkembangan psikologis -yang mencakup faktor eksternal dan internal- seorang individu menjadi monoseksual (gay atau hetero), sementara biseksualitas tetap dalam keadaan laten. Toeri ini bisa menjelaskan kenapa gay bisa "menular" dan gay bias "sembuh" ~ yang diputarbalikkan kaum homofobia bahwa gay itu pilihan sadar.



Sejarah Homoseksual

220px-Niankh

Khnumhotep dan Niankhkhnum - pasangan gay tertua asal Mesir Kuno

Mitos yang dihembuskan kaum homofobia Indonesia mengenai sejarah gay saling berkontradiksi dan menyalahi fakta sejarah. Mereka meyakini, gay adalah trend dan gaya hidup orang barat modern. Namun faktanya, gay sudah ada sejak zaman purbakala. Bahkan di Asia (China, India, Timur Tengah), homoseksualitas begitu merajalela sampai-sampai misionaris Katolik terkaget-kaget melihat "penyimpangan moral" orang Asia. Pada era yang sama, kaum gay justru disiksa habis-habisan di barat, bahkan dibakar hidup-hidup. Iornisnya, di era modern, justru terbalik. Kini orang Timur benci gay, orang Barat yang lebih terbuka.
  • Mesir: Khnumhotep dan Niankhkhnum, pasangan homoseksual pertama yang tercatat dalam sejarah, adalah pasangan laki-laki dari Mesir Kuno, hidup sekitar tahun 2400 SM.
  • Indian: Transgender marak ditemukan dalam suku-suku Indian (Aztek, Maya, Quechua, Moche, Zapotek, Tupinamba), dikenal sebagai individu Dua-Roh.
  • China: Gay dikenal dengan istilah "kenikmatan buah terlarang", "potongan lengan baju", atau "adat selatan" yang tercatat sejak tahun 600 SM.
  • Jepang: Homoseksualitas di Jepang, dikenal sebagai shudo atau nanshoku telah didokumentasikan selama lebih dari seribu tahun dan memiliki beberapa kaitan dengan kehidupan monastik Buddhis dan tradisi samurai.
  • Thailand: Kathoey, atau "ladyboy," telah menjadi budaya Thailand selama berabad-abad, dan raja-raja Thailand memiliki pasangan baik laki-laki maupun perempuan. Mereka umumnya diterima oleh masyarakat, dan negara tidak pernah memiliki hukum yang melarang homoseksualitas atau perilaku homoseksual.
220px-Samarkand A group of musicians playing for a bacha dancing boy

Penari baccha - tradisi gay/transgender dari Timur Tengah

* Timur Tengah: Dalam sejumlah budaya Muslim di Timur Tengah, praktik homoseksual yang bersifat egaliter dan tersebar di segala usia individu. Itu sebabnya, kini, banyak negara di sana menerapkan hukuman mati seperti di Arab Saudi, Iran, Mauritania, Nigeria utara, Sudan, dan Yaman. Logikanya, kalau tidak ada gay, untuk apa membuat UU Anti Gay?
  • Persia/ Iran Kuno: Homoseksualitas dan ekspresi homoerotik ditoleransi di banyak tempat umum, dari biara-biara dan seminari-seminari hingga bar, kamp militer, pemandian, dan kedai kopi. Pada masa Safawiyyah awal (1501-1723), rumah-rumah prostitusi laki-laki (amrad khane) secara hukum diakui, dan membayar pajak.
  • India: Hindu mengenal "jenis kelamin ketiga" yang meliputi gay dan transgender
  • Kepulauan Pasifik: Gay banyak ditemui di masyarakat Melanesia (khususnya di Papua Nugini). Suku Etoro dan Marind-anim malah memandang heteroseksualitas sebagai dosa sementara homoseksualitas diterima secara umum. Tradisi kedewasaan laki-laki suku pedalaman melibatkan tradisi minum sperma tetua.


Binatang Pun Berhomoseks

Dulu, banyak kaum beragama yang merujuk pada binatang. Ada kalimat seperti "Binatang saja tidak berhomoseks. Masa manusia lebih rendah dibanding binatang?" Tapi fakta biologis kini menggebrak, bahwa binatang pun berhomoseks! Ironisnya, begitu kaum beragama sadar mereka salah besar, mereka buru-buru mengganti "Manusia kok berhomoseks kayak binatang?"

Sama seperti manusia, banyak spesies hewan yang memilih hubungan gay secara eksklusif: mulai dari penguin, kucing, anjing, lalat, kera bonobo, jerapah, gajah, dll. Bahkan banyak yang terbukti lebih setia dibanding manusia gay! Kaum beragama berusaha mematahkan bukti ini dengan menghasut bahwa binatang tidak punya akal budi (alhasil, mereka sembarangan melakukan seks tanpa peduli gender). Namun faktanya, banyak pasangan hewan gay saling mengasihi sampai mati. Dalam banyak kasus, mereka bahkan menculik bayi hewan lain/ telur/ bahkan batu untuk diadopsi!

Ad blocker interference detected!


Wikia is a free-to-use site that makes money from advertising. We have a modified experience for viewers using ad blockers

Wikia is not accessible if you’ve made further modifications. Remove the custom ad blocker rule(s) and the page will load as expected.